Cinderella
Babak 1:
Utusan
Kerajaan :“Pengumuman… pengumuman… Sehubungan
dengan akan diadakannya pesta rakyat di istana, maka pihak istana mengundang
semua orang untuk turut serta. Silakan hadir pada saat acara berlangsung. Siapapun
boleh turut serta. Pada pesta rakyat tersebut, Pangeran juga akan memilih calon
pendamping dari para undangan. Jadi, berdandanlah secantik mungkin, siapa tahu anda
yang terpilih.”
(Semua orang, khususnya para wanita,
bersorak-sorai. Termasuk, saudara tiri cinderella,Anastasia, Drizella, dan Frederica.)
Anastasia : “Asyik… pasti Pangeran memilihku
untuk menjadi ratunya. Karena, aku paling cantik di sini!”
Drizella : “Siapa kata? Pasti orang itu buta!
Jelas aku-lah yang akan menjadi pendamping Sang Pangeran.”
Ibu Tiri : “Hei, kalian ini. Tidak perlu
bertengkar. Ibu yakin salah satu anak Ibu ada yang terpilih sebagai pendamping
Pangeran. Tapi, siapapun dari kalian yang terpilih tidak perlu dipersoalkan.
Karena, nantinya semua itu akan membuatku gembira.”
(Sementara itu, cinderella yang
berada di balik jendela kamar ingin ikut juga pesta itu.)
Babak 2:
(Hari pesta rakyat tiba. Anastasia,
drizella, frederica, dan mengenakan gaun terbaik yang mereka miliki. Mereka
berdandan dengan dandanan paling cantik yang mereka bisa dilakukan.)
Ibu Tiri : ”Hei, kalian, pakai perhisan ini, pakai sepatu ini,.” (sibuk memerhatikan make up ketiga
anaknya.)
(Cinderella hanya bisa melihat mereka yang sibuk berdandan. Dia juga ingin berangkat ke pesta
itu. Tapi, ia tidak bisa ikut dalam pesta rakyat itu karena ibu
tirinya melarangnya untuk pergi)
Babak 3:
Dikamar...
Cinderella : (menangis tersedu-sedu, karena
hatinya kesal)
“Oh, Tuhan, seandainya ayah masih ada, pasti aku dibelikan gaun terindah untuk
ikut pesta itu.”
(Tiba-tiba seorang peri muncul di
hadapan Cinderella.)
Ibu Peri : “Jangan menangis, anakku. Tidak
seharusnya kau bersedih. Tersenyumlah, supaya wajahmu
bertambah cantik.”
Cinderella : “Bagaimana bisa aku tersenyum, Ibu
Peri? Aku juga ingin datang ke pesta itu seperti kakak-kakakku. Tapi, gara-gara
aku tidak punya gaun yang cantik, mereka tidak mengizinkanku.”
Ibu Peri : (Tersenyum dengan ramah) “Cinderella, bawalah empat ekor
tikus, dua ekor kadal, dan satu labu yang besar.”
Cinderella : (Bingung) “Untuk apa,bu?”
Ibu Peri : “Sudah kau kumpulkan saja.”
(Cinderella mengumpulkan empat ekor
tikus, dua ekor kadal, dan satu labu besar sesuai permintaan ibu peri)
Ibu Peri : “Sim salabim!” (mengayunkan tongkat sihirnya ke
hewan-hewan yang dibawa Cinderella)
(Empat tikus berubah menjadi kuda.
Dua kadal berubah menjadi sais. Dan labu besar berubah menjadi kereta berwarna
emas)
Ibu Peri : “Sepertinya kau membutuhkan gaun
baru.” [Mengayunkan tongkatnya kepada cinderella.]
Cinderella : “Wah, bagus sekali gaun ini, Ibu
Peri.” [Melihat gaunnya berubah menjadi gaun berwarna putih yang cantik nan
elegan.]
Ibu Peri : “Sebagai sentuhan akhir…” [Ibu
Peri mengayunkan tongkatnya, dan tampaklah sepasang sepatu kaca.]
Cinderella : “Ibu Peri, ini… ini…” [tak kuasa
menahan rasa harunya, memeluk ibu peri.]
Ibu Peri : “Oke… oke… Tapi, kau harus ingat
bahwa pengaruh sihir ini akan lenyap selepas pukul dua belas malam. Karena itu,
pulanglah sebelum lewat tengah malam.”
Cinderella : “Baiklah, Ibu Peri, aku akan
mengingat hal tersebut.”
Ibu Peri : “Sekarang berangkatlah!”
[Cinderella naik kereta kuda emas,
yang membawanya berangkat menuju istana.]
Babak 4:
[Cinderella tiba di istana dan
langsung masuk ke aula istana. Begitu masuk, pandangan semua yang hadir tertuju
pada cinderella. Mereka sangat kagum dengan kecantikan cinderella, termasuk
sang pangeran.]
Pangeran : “Putri yang cantik, maukah berdansa dengan saya?” [Sambil mencium
punggung tangan cinderella.]
Cinderella : “Baiklah, Pangeran.”
[Cinderella dan pangeran menari
dalam alunan musik yang syahdu diiringi pandangan iri mata seluruh tamu yang
hadir. Ibu dan kedua kakak cinderella merasa iri pada putri cantik itu, mereka
tidak menduga bahwa putri cantik itu adalah cinderella.]
Pangeran : “Selama ini, saya mengidamkan
wanita seperti Putri.”
Cinderella : [Tersipu-sipu]
Keduanya terus berdansa hingga tidak
terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Lonceng pun
berdentang-dentang.
Cinderella : “Maaf Pangeran, saya harus segera
pulang!”
Cinderella langsung berlari pulang.
Di tengah tangga, sepatu kacanya terlepas. Tapi, cinderella tidak mengambilnya. Ia terus berlari. Pangeran
mengejar cinderella. Tapi, ia kehilangan jejak cinderella. Pangeran hanya menemukan sepatu kaca milik
cinderella di tengah tangga.
Pangeran : “Aku akan mencarimu.”
Di tengah jalan pulang, cinderella
berubah kembali menjadi gadis penuh debu. Namun, ia sudah cukup bahagia.
Babak 5:
Keesokan harinya, pangeran
menitahkan kepada pengawal-pengawalnya untuk mencari pemilik sepatu kaca.
Dimana pun mereka berada. Baik di pelosok sekalipun.
Pangeran : “Pengawal!”
Pangeran : “Pengawal!”
Pengawal : “Hamba, Gusti Pangeran.” (Membungkuk memberi hormat).
Pangeran : “Semalam, tampaknya aku sudah
menemukan seorang wanita idaman yang kucari selama ini.”
Pengawal : “Ya, Paduka.”
Pangeran : “Namun, belum sempat aku bertanya
latar belakangnya, ia keburu pulang dengan tergesa-gesa. Ia cuma meninggalkan
ini.” (Menunjukkan sebelah sepatu kaca
milik Cinderella)
Pengawal : “Milik siapakah itu, Gusti
Pangeran?”
Pangeran : “Justru itu. Aku menitahkan kamu
dan anak buahmu untuk menyisir seluruh pelosok negeri. Cari seorang wanita yang
cocok mengenakan sepatu ini. Pastikan semua wanita, tidak peduli siapapun,
memakai sepatu ini!”
Pengawal : “Baiklah, Gusti Pangeran.”
Babak 6:
Bersama anak buahnya, pengawal
segera bergerak. Mereka menyisir semua tempat, hingga tiba di rumah cinderella dan ibu
tiri-nya.
Pengawal : “Selamat pagi, Madam.”
Ibu Tiri : “Ada apa?”
Pengawal : “Kami datang ke sini atas titah
Pangeran untuk mencari pemilik ini. (menunjuk sepatu kaca) Karena Pangeran hendak
memperistrinya. Adakah Nyonya memiliki anak gadis?”
Ibu Tiri : “Silakan tunggu di sini.”
“Drizella, dan Frederica!” (Berteriak memanggil ketiga anaknya.)
(Kedua anaknya: drizella, dan frederica. Mereka
kemudian mencoba sepatu kaca yang dibawa pengawal pangeran.)
Pengawal : (Menggeleng) “Sepertinya bukan putri-putri Nyonya yang kami cari. Maaf…”
Ibu Tiri : “Cobalah sekali lagi.” “Kalian, cobalah untuk mengecilkan
ukuran kakimu sebentar saja.” (Berbisik kepada putri-putrinya)
Drizella : “Hmm, sepertinya sepatu kaca ini
akan muat di kakiku.”
Pengawal : “Tolong, jangan kau paksakan.”
Drizella : “Tidak, sepatu kaca ini pas di
kakiku. Lihatlah…”
Pengawal : “Sudah cukup.”
Frederica : “Tidak cukup.” [Mengambil Sepatu Kaca
Dan Ingin Membantingnya.]
Pengawal : “Eits, eits, jangan dibanting.”
Frederica : (menyerahkan kembali sepatu kaca itu
ke pengawal.)
Pengawal : “Karena tidak ada seorang pun yang
cocok disini, kami akan melanjutkan pencarian kami di lain tempat.”
[Tepat
pada saat itu, Cinderella lewat.]
Pengawa : “Apakah dia anak gadis Anda,
Madam?”
Ibu Tiri : “Bukan. Dia cuma pembantu di
sini!”
Pengawal : “Tidak menjadi soal. Asalkan dia
seorang wanita, kami diperintahkan untuk mencobanya.”
Ibu Tiri : “Tidak. Tidak boleh. Sepatu kaca
itu takkan muat untuknya!”
Pengawal : “Dan kamu? Siapa namamu?”
Cinderella : “Cinderella, Tuan.”
Pengawal : “Baiklah, Cinderella. Cobalah
sepatu kaca ini.”
Ibu Tiri : “Tidak akan muat.”
Cinderella : (menjulurkan kaki kanannya)
Pengawal : “Pas sekali sepatu ini di kaki
Anda. Ah, Andalah Putri cantik itu?!”
Ibu dan ketiga kakak tiri cinderella
sangat marah dan iri pada cinderella, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Tepat saat itu, ibu peri muncul.
Ibu Peri : “Selamat Cinderella. Mulai
sekarang hiduplah berbahagia dengan Pangeran. Sim salabim.” (Cinderella berubah menjadi putri cantik
seperti waktu pesta rakyat.)
Ibu Peri : “Kamu tidak perlu khawatir. Tidak
seperti sebelumnya, pengaruhnya akan abadi.”
Cinderella :“Terima kasih Ibu Peri.”
Cinderella pun pergi ke istana pangeran. Ia menikah dengan pangeran tampan. Demikianlah naskah drama cinderella ini adanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar