Selasa, 03 Juni 2014

Drama Cinderella



Cinderella
Babak 1:
Utusan Kerajaan         :“Pengumuman… pengumuman… Sehubungan dengan akan diadakannya pesta rakyat di istana, maka pihak istana mengundang semua orang untuk turut serta. Silakan hadir pada saat acara berlangsung. Siapapun boleh turut serta. Pada pesta rakyat tersebut, Pangeran juga akan memilih calon pendamping dari para undangan. Jadi, berdandanlah secantik mungkin, siapa tahu anda yang terpilih.”
(Semua orang, khususnya para wanita, bersorak-sorai. Termasuk, saudara tiri cinderella,Anastasia, Drizella, dan Frederica.)
Anastasia                     : “Asyik… pasti Pangeran memilihku untuk menjadi ratunya. Karena, aku paling cantik di sini!”
Drizella                        : “Siapa kata? Pasti orang itu buta! Jelas aku-lah yang akan menjadi pendamping Sang Pangeran.”
Ibu Tiri                        : “Hei, kalian ini. Tidak perlu bertengkar. Ibu yakin salah satu anak Ibu ada yang terpilih sebagai pendamping Pangeran. Tapi, siapapun dari kalian yang terpilih tidak perlu dipersoalkan. Karena, nantinya semua itu akan membuatku gembira.”
(Sementara itu, cinderella yang berada di balik jendela kamar ingin ikut juga pesta itu.)

Babak 2:
(Hari pesta rakyat tiba. Anastasia, drizella, frederica, dan mengenakan gaun terbaik yang mereka miliki. Mereka berdandan dengan dandanan paling cantik yang mereka bisa dilakukan.)
Ibu Tiri                        : ”Hei, kalian, pakai perhisan ini, pakai sepatu ini,.” (sibuk memerhatikan make up ketiga anaknya.)
(Cinderella  hanya bisa melihat mereka yang sibuk berdandan. Dia juga ingin berangkat ke pesta itu. Tapi, ia tidak bisa ikut dalam pesta rakyat itu karena ibu tirinya melarangnya untuk pergi)

Babak 3:
Dikamar...
Cinderella                    : (menangis tersedu-sedu, karena hatinya kesal) “Oh, Tuhan, seandainya ayah masih ada, pasti aku dibelikan gaun terindah untuk ikut          pesta itu.”
(Tiba-tiba seorang peri muncul di hadapan Cinderella.)
Ibu Peri                       : “Jangan menangis, anakku. Tidak seharusnya kau bersedih. Tersenyumlah, supaya wajahmu bertambah cantik.”
Cinderella                    : “Bagaimana bisa aku tersenyum, Ibu Peri? Aku juga ingin datang ke pesta itu seperti kakak-kakakku. Tapi, gara-gara aku tidak punya gaun yang cantik, mereka tidak mengizinkanku.”
Ibu Peri                       : (Tersenyum dengan ramah) “Cinderella, bawalah empat ekor tikus, dua ekor kadal, dan satu labu yang besar.”
Cinderella                    : (Bingung) “Untuk apa,bu?”
Ibu Peri                       : “Sudah kau kumpulkan saja.”
(Cinderella mengumpulkan empat ekor tikus, dua ekor kadal, dan satu labu besar sesuai permintaan ibu peri)
Ibu Peri                       : “Sim salabim!” (mengayunkan tongkat sihirnya ke hewan-hewan yang dibawa Cinderella)
(Empat tikus berubah menjadi kuda. Dua kadal berubah menjadi sais. Dan labu besar berubah menjadi kereta berwarna emas)
Ibu Peri                       : “Sepertinya kau membutuhkan gaun baru.” [Mengayunkan tongkatnya kepada cinderella.]
Cinderella                    : “Wah, bagus sekali gaun ini, Ibu Peri.” [Melihat gaunnya berubah menjadi gaun berwarna putih yang cantik nan elegan.]
Ibu Peri                       : “Sebagai sentuhan akhir…” [Ibu Peri mengayunkan tongkatnya, dan tampaklah sepasang sepatu kaca.]
Cinderella                    : “Ibu Peri, ini… ini…” [tak kuasa menahan rasa harunya, memeluk ibu peri.]
Ibu Peri                       : “Oke… oke… Tapi, kau harus ingat bahwa pengaruh sihir ini akan lenyap selepas pukul dua belas malam. Karena itu, pulanglah sebelum lewat tengah malam.”
Cinderella                    : “Baiklah, Ibu Peri, aku akan mengingat hal tersebut.”
Ibu Peri                       : “Sekarang berangkatlah!”
[Cinderella naik kereta kuda emas, yang membawanya berangkat menuju istana.]
Babak 4:
[Cinderella tiba di istana dan langsung masuk ke aula istana. Begitu masuk, pandangan semua yang hadir tertuju pada cinderella. Mereka sangat kagum dengan kecantikan cinderella, termasuk sang pangeran.]
Pangeran                     : “Putri yang cantik, maukah berdansa dengan saya?” [Sambil mencium punggung tangan cinderella.]
Cinderella                    : “Baiklah, Pangeran.”
[Cinderella dan pangeran menari dalam alunan musik yang syahdu diiringi pandangan iri mata seluruh tamu yang hadir. Ibu dan kedua kakak cinderella merasa iri pada putri cantik itu, mereka tidak menduga bahwa putri cantik itu adalah cinderella.]
Pangeran                     : “Selama ini, saya mengidamkan wanita seperti Putri.”
Cinderella                    : [Tersipu-sipu]
Keduanya terus berdansa hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Lonceng pun berdentang-dentang.
Cinderella                    : “Maaf Pangeran, saya harus segera pulang!”
Cinderella langsung berlari pulang. Di tengah tangga, sepatu kacanya terlepas. Tapi, cinderella tidak mengambilnya. Ia terus berlari. Pangeran mengejar cinderella. Tapi, ia kehilangan jejak cinderella. Pangeran hanya menemukan sepatu kaca milik cinderella di tengah tangga.
Pangeran                     : “Aku akan mencarimu.”
Di tengah jalan pulang, cinderella berubah kembali menjadi gadis penuh debu. Namun, ia sudah cukup bahagia.
Babak 5:
Keesokan harinya, pangeran menitahkan kepada pengawal-pengawalnya untuk mencari pemilik sepatu kaca. Dimana pun mereka berada. Baik di pelosok sekalipun.
Pangeran
                     : “Pengawal!”
Pengawal                     : “Hamba, Gusti Pangeran.” (Membungkuk memberi hormat).
Pangeran                     : “Semalam, tampaknya aku sudah menemukan seorang wanita idaman yang kucari selama ini.”
Pengawal                     : “Ya, Paduka.”
Pangeran                     : “Namun, belum sempat aku bertanya latar belakangnya, ia keburu pulang dengan tergesa-gesa. Ia cuma meninggalkan ini.” (Menunjukkan sebelah sepatu kaca milik Cinderella)
Pengawal                     : “Milik siapakah itu, Gusti Pangeran?”
Pangeran                     : “Justru itu. Aku menitahkan kamu dan anak buahmu untuk menyisir seluruh pelosok negeri. Cari seorang wanita yang cocok mengenakan sepatu ini. Pastikan semua wanita, tidak peduli siapapun, memakai sepatu ini!”
Pengawal                     : “Baiklah, Gusti Pangeran.”
Babak 6:
Bersama anak buahnya, pengawal segera bergerak. Mereka menyisir semua tempat, hingga tiba di rumah cinderella dan ibu tiri-nya.
Pengawal                     : “Selamat pagi, Madam.”
Ibu Tiri                        : “Ada apa?”
Pengawal                     : “Kami datang ke sini atas titah Pangeran untuk mencari pemilik ini. (menunjuk sepatu kaca) Karena Pangeran hendak memperistrinya. Adakah Nyonya memiliki anak gadis?”
Ibu Tiri                        : “Silakan tunggu di sini.”
“Drizella, dan Frederica!” (Berteriak memanggil ketiga anaknya.)
(Kedua anaknya: drizella, dan frederica. Mereka kemudian mencoba sepatu kaca yang dibawa pengawal pangeran.)
Pengawal                     : (Menggeleng) “Sepertinya bukan putri-putri Nyonya yang kami cari. Maaf…”
Ibu Tiri                        : “Cobalah sekali lagi.” “Kalian, cobalah untuk mengecilkan ukuran kakimu sebentar saja.” (Berbisik kepada putri-putrinya)
Drizella                        : “Hmm, sepertinya sepatu kaca ini akan muat di kakiku.”
Pengawal                     : “Tolong, jangan kau paksakan.”
Drizella                        : “Tidak, sepatu kaca ini pas di kakiku. Lihatlah…”
Pengawal                     : “Sudah cukup.”
Frederica                     :Tidak cukup.” [Mengambil Sepatu Kaca Dan Ingin Membantingnya.]
Pengawal                     : “Eits, eits, jangan dibanting.”
Frederica                     : (menyerahkan kembali sepatu kaca itu ke pengawal.)
Pengawal                     : “Karena tidak ada seorang pun yang cocok disini, kami akan melanjutkan pencarian kami di lain tempat.”
[Tepat pada saat itu, Cinderella lewat.]
Pengawa                      : “Apakah dia anak gadis Anda, Madam?”
Ibu Tiri                        : “Bukan. Dia cuma pembantu di sini!”
Pengawal                     : “Tidak menjadi soal. Asalkan dia seorang wanita, kami diperintahkan untuk mencobanya.”
Ibu Tiri                        : “Tidak. Tidak boleh. Sepatu kaca itu takkan muat untuknya!”
Pengawal                     : “Dan kamu? Siapa namamu?”
Cinderella                    : “Cinderella, Tuan.”
Pengawal                     : “Baiklah, Cinderella. Cobalah sepatu kaca ini.”
Ibu Tiri                        : “Tidak akan muat.”
Cinderella                    : (menjulurkan kaki kanannya)
Pengawal                     : “Pas sekali sepatu ini di kaki Anda. Ah, Andalah Putri cantik itu?!”
Ibu dan ketiga kakak tiri cinderella sangat marah dan iri pada cinderella, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Tepat saat itu, ibu peri muncul.
Ibu Peri                       : “Selamat Cinderella. Mulai sekarang hiduplah berbahagia dengan Pangeran. Sim salabim.” (Cinderella berubah menjadi putri cantik seperti waktu pesta rakyat.)
Ibu Peri                       : “Kamu tidak perlu khawatir. Tidak seperti sebelumnya, pengaruhnya akan abadi.”
Cinderella                    :“Terima kasih Ibu Peri.”

Cinderella pun pergi ke istana pangeran. Ia menikah dengan pangeran tampan. Demikianlah naskah drama cinderella ini adanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar